5 Hujan dalam 1 Playlist

12:26:00 AM


Manado mulai diguyur hujan yang benar-benar membasahi genting, tumbuhan serta aspal jalan. Entah sudah berapa bulan ia alpa mengguyur kota ini. Yang jelas, hujan sudah jadi sosok yang begitu dirindukan dan paling ditunggu.

Siapa yang tak senang? Di jejaring sosial, pemuda-pemudi kota menyambutnya. “Hujan berkat tercurah,” demikian diserukan. Barangkali berkat itu adalah menghirup aroma yang ditimbulkan hujan saat membasahi aspal.


Saya juga senang. Buat saya hujan itu seksi. Bukan karena kehadirannya berbanding lurus dengan peningkatan frekuensi pipis. Lebih dari itu. Merasakan hujan adalah romantika menyanyikan lagu bait tik, tik, tik, bunyi hujan di atas genting.

Di malam hari, udara dingin, suara gerimis dan nyanyian jangkrik berduet dengan kodok adalah rapsodi yang sempurna. Klasik. Tak ada yang lebih puitis dari itu. Karena hujan pula, beberapa orang bisa terstimulus menghadirkan puisi dengan galau yang tak terbantahkan. Ya, tanpa hujan, galau terasa kurang lengkap. Seperti JKT 48 tanpa Melody.

Lihat saja bagaimana Zuraid, seorang kawan yang sebentar lagi wisuda, menuliskan status BBM: November Rain – tepat saat dini hari kesatu bulan November. Sekilas tak nampak kesan galau. Tapi, sebagai gitaris dengan kemampuan interpretasi yang sangat tajam, bukan asal-asalan ia menempatkan judul lagu yang dibuat Guns n’ Roses.

Padahal, Zuraid punya kesempatan memilih Hujan versi Utopia. Membayangkan ia hadir dalam nuansa lagu itu, terjebak di suatu halte bersama kekasihnya, lalu berbaik hati meminjamkan jaket. Tapi, sayangnya, Zuraid bukan tipe lelaki yang bisa ditemukan di FTV. Ia lebih memilih memainkan melodi yang melengking dengan emosi liar, sambil bergaya layaknya bang Rhoma – sang ‘Satria Bergitar’.

November Rain sendiri, yang jadi status BBM Zuraid, bercerita tentang rasionalitas perpisahan yang disampaikan dengan begitu puitis. “Everybody needs some time on their own”, demikian penggalan liriknya. Bahkan dengan segala kesan maskulinitas, tetap saja ada getir yang menyengat. Guns n’ Roses, mungkin juga Zuraid, paham betul bahwa nothin’ lasts forever, even cold November rain – tak ada yang abadi, bahkan dingin hujan November.

Baiklah, berikan kesempatan bagi Zuraid menikmati November Rain-nya.

Di playlist saya, ada beberapa lagu tentang hujan. Semuanya dinyanyikan oleh musisi Indonesia – dengan sudut pandang yang berbeda. Saya akan coba menafsirkan secara umum pesan dalam lagu-lagu itu, yang sangat mungkin jauh dari maksud penciptanya. Tapi siapa peduli, baca saja! :D

Hujan Jangan Marah

Lagu yang dinyanyikan Efek Rumah Kaca ini, mewakili perasaan banyak orang yang rindu hujan. Gambaran frustasi begitu menonjol. Ini terlihat dari pemilihan kata yang digunakan: pucatnya cemara, jantungku menyerah di tanah yang merah, hingga bertanya pada musim kering.

Untuk mengetahui relevansi lagu tersebut, Anda bisa berkunjung langsung ke kos maupun kontrakan mahasiswa yang kekurangan air di kamar mandinya. Saya pernah mengalaminya. Musim kering semakin memperparah kesulitan hidup yang bertubi-tubi menyerang. Keterbatasan air harus disiasati dengan pemanfaatan secara adil, merata dan penuh dengan kebijaksanaan. Tak jarang saya pergi ke kampus hanya dengan gosok gigi dan membasahi kedua kelopak mata. Wajah dan rambut tetap kering.

Belum cukup penderitaan itu. Musim kering jadi musuh utama rasa pipis dan buang air besar. Menundanya sama dengan berhenti menjadi manusia dalam kurun waktu tertentu. Bersembunyi di semak-semak, tergesa-gesa, waspada pada ular maupun pelintas jalan adalah hal paling menjengkelkan saat pipis. Begitu juga rasanya menahan buang air besar ketika keringat sudah menembus kulit. Menahan e’e’ itu kejam, sobat!

And Rain Will Fall

Susah move on waktu hujan? Jangan dengar lagu ini, sesak di dada Anda bisa semakin parah, dan bisa bikin susah bernafas. Nyesek. Jika tanpa sengaja menekan lagu ini, Anda masih punya kesempatan beberapa detik untuk menggantinya. Jangan percaya dengan intronya yang terdengar manis dan ceria. Sebab, begitu masuk di bait demi baitnya, saya bisa pastikan hidung Anda segera mimisan. Tak percaya? Silahkan baca sendiri lirik berikut.

I can't understand
Why my world keeps on turning?
And I can't understand
Why the sun keeps on shining?
When you left me all alone

But I do understand
That you have someone better
And I can't understand
That you saved me for later
I can take it I will wait

Sudah lihat sendiri susah move on-nya pencipta lagu? Jika belum khatam revolusi mental, jangan coba-coba dengar lagu ini hingga bagian terakhirnya. Nah, terus di mana hujannya? Sabar. Ia masih dinantikan. Nuansa, lagu ini tidak ubahnya musim kering. Tak hanya di langit, tapi juga ‘di sini’ – sambil nunjuk dada.

Hujan diyakini segera hadir untuk membasuh atit ati. Tentu saja, tak mungkin hanya memandangnya dari jendela. Anda harus keluar rumah dan berbasah-basahan. Air hujan akan menembus pori-pori kulit, masuk tulang, mengalir bersama darah dan tiba di hati. Sebab, kata Mocca, All that I need now is for the rain to fall from the sky to wash away my pain inside.

Jadi, kalau Anda sering terganggu dengan sikap sok bijak seorang kawan yang belum pernah merasakan susahnya move on, namun sering dengan entengnya mengucapkan “yang kuat, ya”. Maka, jangan buat diri Anda lebih tidak berdaya dengan mendengarkan lagu ini.

Hujan

Hujan yang ini adalah lagu dari Chery Bombshell, band asal Bandung yang didirikan tahun 1995. Sekilas, liriknya terdengar nggak nyambung. Tapi, perlu penafsiran mendalam untuk memahaminya. Lihat saja penggalan di bagian hujan kembali datang membawa kehangatan. Mana mungkin? Mungkin, saja. Bisa jadi, ketika hujan, mereka melakukan ritual bertapa atau semedi. Konsentrasi tingkat tinggi bisa mengusir dingin dan mendatangkan kehangatan. Aneh? Tidak juga.

Di bagian lirik selanjutnya, terlihat benar interaksi metafisik personil band Chery Bombshell. Ada kesan horor, misalnya di bagian, Rintiknya basahi bunga-bungaku yang tlah bersemi di dalam hati, bisikkan kata-kata kepadaku. Bunga dalam hati jelaslah gangguan biologis, seperti paku dan kawat dalam perut. Apalagi mengeluarkan bisikan. Coba bayangkan! Hanya orang-orang yang punya ilmu kanoragan yang bisa melakukannya.

Bisa jadi, salah satu personil Cherry Bombshell punya kekuatan magis. Dugaan saya semakin kuat dengan lirik di bait selanjutnya, Oh.. rembulan padam jangan aku kau tinggalkan, jangan kau bersedih, jangan kau menangis. Nah, pernah Anda melihat rembulan padam? P.A.D.A.M. Sementara menyala tiba-tiba mati, gitu! Pernah? Cherry Bombshell pernah. Sakti, bukan?

Membaca Hujan

Bocah ingusan mana, pada masa 1990’an hingga awal 2000’, yang tidak kenal nama Papa T. Bob? Lewat imajinasi liarnya, saya merasakan masa kanak-kanak dengan lagu layak dengar. Namun, bertahun-tahun kita kehilangan sosok yang mampu menghidupkan kembali kejayaan lagu kanak-kanak. Memang, beberapa tokoh sempat berusaha menghadirkannya, tapi yang ada justru kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku, uh yea, dan seterusnya, dan seterusnya.

Harapan itu hadir kembali setelah saya mendengar lagu Membaca Hujan ciptaan Dialog Dini Hari. Ada semangat pendidikan di sini. Jika saja mereka mau mengaransemen lagu jadi lebih riang-gembira dan mengandung unsur jenaka, maka masing-masing personil Dialog Dini Hari akan segera punya sebutan baru, misalnya: papah Dadang – front man Dialog Dini Hari sekaligus gitaris Navicula.

Beberapa orang mengatakan lirik lagu ini terlalu filosofis, susah dicerna. Bagaimana anak-anak bisa memahami makna ajari aku membaca hujan, agar aku mampu membaca air? Ya, bikin sederhana saja. Jangan terlampau dipandang serius. Kurangi sedikit main duel otak, bung! Membaca hujan berarti H-A-H, U-J-U + N = HUJAN! Lalu teruskan lagi, dengan yang lebih gampang A+I+R, apa? AIR!

Demikian pula berlaku di bait-bait selanjutnya. Papah-papah Dialog Dini Hari memang edukatif. Mereka menutup lagu ini dengan seruan moral yang bisa mendidik generasi penerus bangsa. Sesuatu yang kurang ditonjolkan cowboy junior penyanyi cilik hari ini. Begini mereka menutup lagu Membaca Hujan: ajari aku melihat doa, agar aku mampu menangkap amin. Amin.

Desember – ERK

Tak lengkap daftar lagu tentang hujan tanpa Desember. Sebuah karya raksasa dari Efek Rumah Kaca. Sebagai band yang menyatakan jatuh cinta itu biasa saja, penting menyembunyikan galau. Di lagu inilah kecanggihan efek rumah kaca menyimpan cengeng dengan rapat, jangan sampai terlihat.

Saya bayangkan, Cholil meradang di tengah-tengah hujan. Ia bernyanyi dan berelegi di balik awan hitam. Sementara, di luar rumah hujan deras mengguyur, langit mendung. Ia hanya menatap suasana itu dari jendela. Tak berdaya. Cholil seperti percaya bahwa di balik mendung tebal ada terang sinar matahari. Bagi dia, hujan menimpan ironi: meneteskan luka, sekaligus meretas luka. Cholil ingin cepat-cepat memastikan keluar dari keadaan itu. Dia tak ingin hidup terlalu lama dalam kebimbangan emosional.

Perkara galaunya, saya tidak tahu. Yang pasti, Desember berhasil menyimpan kegundahan personil Efek Rumah Kaca dengan menonjolkan keterpaduan kata. Mereka bisa merekayasa persepsi publik tentang elegi, menjadi sesuatu yang indah didengar juga dibaca. Mari lihat baik-baik penantian mereka, Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember... Seperti pelangi setia menunggu hujan reda.

***

Nah, itu dia sejumlah lagu tentang hujan yang ada di playlist saya, dan segala macam analisis di baliknya. Bagaiama dengan Anda? Punya cerita sendiri?


Akhirnya, saya harus ucapkan, selamat datang hujan!

*
Gambar diunggah dari:

You Might Also Like

0 comments

Tentang Saya

My photo

Dengan bakat masak telur, mie instant dan air panas, saya bercita-cita jadi master chef.

"Tembok!"

Informasi diperoleh secara cuma-cuma. Ia ada disekitar kita. Tiap orang berhak mengaksesnya untuk mengembangkan diri atau menghindari pembodohan. Karenanya, privatisasi informasi merupakan sebuah bentuk penyelewengan intelektual.

Coretan di Tembok!